Selasa, 08 Januari 2013
Selasa, 04 September 2012
PEMILIHAN DUTA WISATA ( MBA DAN MAS KABUPATEN PEKALONGAN )
l. PERSYARATAN LOMBA
1. Warga Negara Indonesia yang berdomisili di kabupaten pekalongan, Umum / Pelajar dibuktikan dengan identitas diri (ktp, kartu pelajar, kartu mahasiswa dan lainnya yang sejenis) yang masih berlaku
2. Usia minimal 17 tahun dan maksimal 25 tahun serta belum menikah Moral & Etika
3. Tinggi badan 170 cm untuk putra dan 165 cm untuk putri
4. Pendidikan minimal sedang duduk di SMU / SMK / Akademi / Perguruan Tinggi Sarjana
5. Menyerahkan pas photo berwarna ½ badan ukuran 4 x 6 sebanyak 3 lembar, photo close up ukuran post card 1 lembar dan photo seluruh badan ukuran post card 1 lembar dan photo seluruh badan ukuran post card 1 lembar
6. mengisi dan menyerahkan kembali formulir pendaftaran Menyerahkan pas photo berwarna ½ badan ukuran 4 x 6 sebanyak 3 lembar, photo close up ukuran post card 1 lembar dan photo seluruh badan ukuran post card 1 lembar dan photo seluruh badan ukuran post card 1 lembarke DINPORAPAR paling lambat tanggal 29 september 2012
ll. MATERI YANG DIUJIKAN
7. Pengetahuan umum
8. Pengetahuan Pariwisata dan Kebudayaan
9. Kepribadian
10. Moral & Etika
11. Bahasa Jawa
12. Bahasa Inggris
lll. TEKNIKAL METTING
Hari / Tanggal :Minggu, 30 September 2012
Jam :08.00 WIB s/d selesai
Tempat :Gedung Kesenian Kab. Pekalongan
Jl. Mandurorejo Kajen
Pakaian :Batik dan Bersepatu
lV. TES WAWANCARA / SELEKSI / AUDISI
Hari / Tanggal :Senin, 1 Oktoberr 2012
Jam :08.00 WIB s/d selesai
Tempat :Gedung Kesenian Kab. Pekalongan
Jl. Mandurorejo Kajen
Pakaian :Batik dan Bersepatu
V. PELAKSANAAN KARANTINA / PEMBEKALAN
Hari / Tanggal :Jumat, 5 Oktober 2012
Jam :07.00 WIB s/d selesai
Tempat :Gedung Kesenian Kab. Pekalongan
Jl. Mandurorejo Kajen
Pakaian :1. Kaos Putih (Olahraga) bawahan traning
2. Batik dan Bersepatu
3. Membawa Kain , Slop & Stagen Untuk Latihan Koreo
Vl. TEKNIKAL METTING
Hari / Tanggal :Sabtu, 06 Oktober 2012
Jam :19.00 WIB s/d selesai
Tempat :Gedung Pertemuan Umum (GPU) Kajen
Pakaian : Pakaian Nasional ( pakaian adat jawa tengah )
PENDAFTARAN :
Mulai tanggal 8 agustus- 29 september 2012
Di kantor DINPORAPAR
Jl. Teuku Umar Kajen Telp.( 0285)381783 kode pos 51161
Senin, 06 Agustus 2012
BENGKEL SENI
Bengkel seni bertempat di GEDUNG KESENIAN KABUPATEN PEKALONGAN Bengkel seni adalah tempat untuk mengapresiasikan seni (berbagai kesenian yang ada di indonesia) terutama kesenian yang dari kabupaten pekalongan sendiri,. Bengkel seni bisa juga bisa dibilang tempat nongkrongnya orang-orang yang ber jiwa seni, eh.. tapi yang mau lihat atau nonton aja ga apa-apa kok kita malahanseneng tambah rame kan tambah asyik,. Hehe lagipula disana kan ga bayar alias gratis, jadi kita bisa menonton tanpa merogoh kocek, hehe ;-) Ayoo pada kesana yuk,. Boleh ajak keluarga atau pacar juga boleh di ajak kesana kok, tapi yang belom punya pacar tenang aja kita disana sambil cari cari kan ga apa-apa di bengkel seni orangnya cakep-cakep dan cantik – cantik loch... hehehe :-D
tapi ingat yach, kita semua disana harus saling jaga keamanan dan ketertiban. . . .
Selasa, 31 Januari 2012
KESENIAN SINTREN
Sintren adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Pekalongan.
Sejarah : Kesenian Sintren berasal
dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi
Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa
Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki
Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi
penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung
melalui alam gaib.
Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).
Bentuk pertunjukan : Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).
Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan mempesona.
Instrumen : gamelan khas laras slendro
Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).
Bentuk pertunjukan : Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).
Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan mempesona.
Instrumen : gamelan khas laras slendro
KESENIAN KETHEK OGLENG
Kethek Ogleng merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang masih
berkembang dengan bentuk yang beragam di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah.
kisahnya menceritakan seekor kera jelmaan raden gunung sari dalam cerita panji
dalam upaya mencari dewi sekartaji yang menghilang dari istana.untuk
mengelabuhi penduduk agar bebas keluar masuk desa dan hutan,maka raden gunung
sari menjelma jadi seekor kera putih yang lincah dan lucu.
Tari Kethek Ogleng ini dalam mengekspresikannya menggambarkan gerak-gerik
sekelompok kera putih.dalam tarian ini terlintas ungkapan
kelincahan,kebersamaan,semangat,kelucuan dan atraktif.
Iringannya menggunakan instrumen gamelan jawa,alat perkusi tradisional dan
penggaran olah vokal yang tetap menghadirkan rasa dan nuansa kerakyatan.
Sekilas Cerita asal usul Kethek Ogleng :
Kethek Ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku
kethek (kera). Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan
Nawangan bertahun-tahun lamanya. Biasanya tarian ini dipentaskan pada waktu
hajatan masyarakat setempat. Tarian Kethek Ogleng ini berasal dari sebuah cerita
Kerajaan Jenggala dan Kediri.
Raja Jenggala mempunyai seorang putri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan Kediri mempunyai seorang putra bernama Raden Panji Asmorobangun. Kedua insan ini saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Hal ini membuat keduanya tidak dapat dipisahkan.
Namun, raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya-yang tentunya tidak dia cintai, dia diam-diam meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayahanda dan seluruh orang di kerajaan. Malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat.
Di Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun yang mendengar berita menghilangnya Dewi Sekartaji memutuskan untuk nekad mencari Dewi Sekartaji, sang kekasih. Di perjalanan, Panji Asmorobangun singgah di rumah seorang pendeta. Di sana Panji diberi wejangan agar pergi ke arah barat dan dia harus menyamar menjadi kera. Sedangkan di lain pihak, Dewi Sekartaji ternyata telah menyamar menjadi Endang Rara Tompe.
Setelah Endang Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan Endang Rara Tompe, yang sebenarnya Dewi Sekartaji, beristirahat di suatu daerah dan memutuskan untuk menetap di sana. Ternyata kethek penjelmaan Panji Amorobangun juga tinggal tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah mereka berdua. Meski tinggal berdekatan dan bersahabat, Endang Rara Tompe belum mengetahui jika kethek yang menjadi sahabatnya adalah Panji Asmorobangun, sang kekasih, begitu juga dengan Panji Asmorobangun, dia tidak mengetahui jika Endang Rara Tompe adalah Dewi Sekartaji yang selama ini dia cari.
Setelah persahabatan antara Endang Rara Tompe dan kethek terjalin begitu kuatnya, mereka berdua membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah bentuknya menjadi Dewi Sekartaji, begitu juga dengan kethek sahabat Endang Rara Tompe. Kethek tersebut merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Perjumpaan antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun diliputi perasaan haru sekaligus bahagia. Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun sepakat kembali ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.
Raja Jenggala mempunyai seorang putri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan Kediri mempunyai seorang putra bernama Raden Panji Asmorobangun. Kedua insan ini saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Hal ini membuat keduanya tidak dapat dipisahkan.
Namun, raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya-yang tentunya tidak dia cintai, dia diam-diam meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayahanda dan seluruh orang di kerajaan. Malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat.
Di Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun yang mendengar berita menghilangnya Dewi Sekartaji memutuskan untuk nekad mencari Dewi Sekartaji, sang kekasih. Di perjalanan, Panji Asmorobangun singgah di rumah seorang pendeta. Di sana Panji diberi wejangan agar pergi ke arah barat dan dia harus menyamar menjadi kera. Sedangkan di lain pihak, Dewi Sekartaji ternyata telah menyamar menjadi Endang Rara Tompe.
Setelah Endang Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan Endang Rara Tompe, yang sebenarnya Dewi Sekartaji, beristirahat di suatu daerah dan memutuskan untuk menetap di sana. Ternyata kethek penjelmaan Panji Amorobangun juga tinggal tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah mereka berdua. Meski tinggal berdekatan dan bersahabat, Endang Rara Tompe belum mengetahui jika kethek yang menjadi sahabatnya adalah Panji Asmorobangun, sang kekasih, begitu juga dengan Panji Asmorobangun, dia tidak mengetahui jika Endang Rara Tompe adalah Dewi Sekartaji yang selama ini dia cari.
Setelah persahabatan antara Endang Rara Tompe dan kethek terjalin begitu kuatnya, mereka berdua membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah bentuknya menjadi Dewi Sekartaji, begitu juga dengan kethek sahabat Endang Rara Tompe. Kethek tersebut merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Perjumpaan antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun diliputi perasaan haru sekaligus bahagia. Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun sepakat kembali ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.
KESENIAN TARI GAMBYONG
Tari Gambyong merupakan suatu tarian yang disajikan untuk menyambut tamu
atau mengawali suatu resepsi perkawinan. Ciri khas, selalu dibuka dengan
gendhing Pangkur. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu
menyelaraskan gerak dengan irama kendang dan gending.
Instrumen :
gender, kendang, kenong, kempul, dan gong
Perkembangan : Awal mula istilah
Gambying tampaknya berawal dari nama seorang penari taledhek.
Penari yang bernama Gambyong ini hidup pada zaman Sunan Paku Buwana IV di
Surakarta.
Penari ini juga dsiebutkan dalam buku "Cariyos Lelampahanipun"
karya Suwargi R.Ng. Ronggowarsito (1803-1873) yang mengungkapkan adanya penari
ledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemnahiran dalam menari dan
kemerduan dalam suara sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu.
tari gambyong sala minulya
Gerak tari
Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak
kaki, tubuh, lengan
dan kepala. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan
spesifikasi
dalam tari Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak
tangan dengan memandang jari-jari tangan ,menjadikan faktor dominan
gerak-gerak tangan dalam ekspresi tari Gambyong. Gerak kaki pada saat sikap
beridiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis.
Sebagai contoh , pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan
langkah-langkah kecil),
nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki
kanan
diletakkan di depan kaki kiri, kengser (gerak kaki ke samping dengan cara
bergeser/posisi telapak
kaki tetap merapat ke lanati). Gerak kaki yang spsifik pada tari Gambyong
adalah gerak embat
atau entrag, yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak bergerak ke
bawah dan ke atas.
Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan
rangklaian gerak,
yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak
berikutnya.
Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak
penghubung, yaitu srisig, singket ukel karana, kengser, dan nacah miring.
Selain itu dilakukan pada rangkaian gerak berjalan
(sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg).
ASAL USUL KESENIAN MUSIK KERONCONG
Akar
keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut
dan budak kapal niaga
bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa)
masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para
budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di
Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal
musik ini disebut moresco (sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka
agak lamban ritmenya), di mana salah satu lagu oleh Kusbini disusun kembali
kini dikenal dengan nama Kr. Muritsku, yang diiringi oleh alat musik dawai.
Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk
sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan.
Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak
tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini
berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya
gelombang musik populer (musik Rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961
hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan
dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.
JAIPONG
Jaipongan adalah sebuah jenis tari pergaulan tradisional masyarakat sunda,
Jawa barat, yang cukup populer di Indonesia.
Sejarah
Tari ini
diciptakan oleh seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira,
sekitar tahun 1960-an, dengan tujuan untuk menciptakan suatu jenis musik dan
tarian pergaulan yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara,
khususnya Jawa Barat. Meskipun termasuk seni tari kreasi yang relatif baru,
jaipongan dikembangkan berdasarkan kesenian rakyat yang sudah berkembang
sebelumnya, seperti Ketuk Tilu, Kulintang, serta Ronggeng.
Perhatian Gumbira pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu
menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari
tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu.
Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam
gerak mincid dari beberapa kesenian menjadi inspirasi untuk
mengembangkan kesenian jaipongan.
Sebelum
bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi
terbentuknya tari pergaulan ini. Di kawasan perkotaan Priangan misalnya,
pada masyarakat elite, tari pergaulan dipengaruhi dansa Ball Room dari
Barat. Sementara pada kesenian rakyat, tari pergaulan dipengaruhi tradisi
lokal. Pertunjukan tari-tari pergaulan tradisional tak lepas dari keberadaan ronggeng
dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk
kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara bergaul. Keberadaan ronggeng
dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum
pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat ,Sunda
diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun
1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya
didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab,
kendang, dua buah kulanter tiga buah ketuk, dan gong.
Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang
baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.
Seiring
dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang
berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/ Doger/Tayub) beralih
perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa
Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan
Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya
maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya
(Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng
Bancet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola
gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis
tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung
unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid
yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa
gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta
Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.
Tarian ini
mulai dikenal luas sejak 1970-an. Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada
awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu
merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih
sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun
iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.
Perkembangan
Karya
Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun
Pulus Keser Bojong" dan “Rendeng Bojong”yang keduanya merupakan
jenis tari putridan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu
muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh,
Yeti Mamat
Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal
kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya
adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media
cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari
Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat
Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi
pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan
oleh pihak swasta dan pemerintah.
Kehadiran
Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni
tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang
perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat
seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan
pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana
perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat
tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup
di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya
"kaleran" (utara).
Ciri khas
Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat,
spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam
pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola)
seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang
tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang.
Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah
Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1)
Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing
Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang
sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5)
Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor)
sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai
pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan
selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari
lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug,
Kuntul mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari
Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan
yang handal antara lain Iceu Efendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintasih,
Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni,
Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.
Dewasa ini
tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat,
hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu
dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan
tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara
senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak memengaruhi
kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni
pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir
semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan
dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh
Mr. Nur & Leni dan bukan saya
Jumat, 27 Januari 2012
SENI TEATER (SEJARAH,PENGERTIAN DAN BENTUK)
Sejarah Teater
Kata tater atau drama berasal
dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti seeing Place
(Inggris). Tontonan drama memang menonjolkan
percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan
dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang
tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton
dapat langsung mengikuti dan menikmati
cerita tanpa harus membayangkan.
Teater sebagai
tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan
bahwa teater sudah ada sejak abad
kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah teater kuno di
Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM.
Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa.
Lahirnya
adalah bermula dari upacara keagamaan yang
dilakukan para pemuka agama, lambat laun
upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa
nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan
dengan lantang, selanjutnya upacara keagamaan
lebih menonjolkan penceritaan.
Sebenarnya
istilah teater merujuk pada
gedung pertunjukan, sedangkan istilah
drama merujuk pada pertunjukannya,
namun kini kecenderungan orang untuk
menyebut pertunjukan drama dengan istilah teater.
1. Mengapresiasikan
Karya Seni Teater
Kegiatan
berteater dalam kehidupan
masyarakat dan budaya Indonesia bukan
merupakan sesuatu yang asing bahkan sudah
menjadi bagian yang tidak terpisahkan, kegiatan
teater dapat kita lihat dalam
peristiwa-peristiwa Ritual keagamaan, tingkat-tingkat
hidup, siklus hidup (kelahiran, pertumbuhan
dan kematian) juga hiburan.
Setiap daerah mempunyai keunikan dan kekhasan dalam tata cara
penyampaiannya. Untuk dapat mengapresiasi dengan baik mengenai seni teater terutama
teater yang ada di Indonesia sebelumnya kita harus memahami apa seni
teater itu ? bagaimana ciri khas teater yang berkembang di wilayah negara
kita.
2. Pengertian
Teater
x arti luas teater adalah segala tontonon
yang dipertunjukan didepan orang banyak, misalnya wayang golek, lenong,
akrobat, debus, sulap, reog, band dan sebagainya.
x arti sempit adalah kisah
hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan
diatas pentas, disaksikan oleh orang
banyak, dengan media : percakapan,gerak dan laku
dengan atau tanpa dekor, didasarkan pada naskah tertulis
denga diiringi musik, nyanyian dan tarian.
Teater
adalah salah satu bentuk kegiatan manusia
yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk
menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya
(seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur
gerak, suara, bunyi dan rupa yang
dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia.
Unsur-unsur teater
menurut urutannya :
|
•
|
Tubuh manusia sebagai unsur utama
(Pemeran/ pelaku/ pemain/actor)
|
|
•
|
Gerak sebagai unsur
penunjang (gerak tubuh,gerak suara,gerak bunyi
|
|
|
dan gerak rupa)
|
|
•
|
Suara sebagai unsur penunjang (kata, dialog,
ucapan pemeran)
|
|
•
|
Bunyi sebagai efek Penunjang (bunyi
benda, efek dan musik)
|
|
•
|
Rupa sebagai unsur penunjang (cahaya,
dekorasi, rias dan kostum)
|
|
•
|
Lakon sebagai unsur
penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi)
|
Teater sebagai hasil
karya (seni) merupakan satu kesatuan yang utuh antara manusia
sebagai unsur utamanya dengan unsur -unsur
penunjang dan penjalinnya. Dan dapat dikatakan bahwa teater merupakan
perpaduan segala macam pernyataan seni.
3. Bentuk Teater Indonesia
berdasarkan pendukungnya :
a. Teater rakyat yaitu teater yang didukung oleh
masyarakat kalangan pedesaan , bentuk teater ini punya karakter bebas tidak
terikat oleh kaidah-kaidah pertunjukan yang kaku, sifat nya
spontan,improvisasi. Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dll.
b. Teater Keraton yaitu Teater yang
lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan. Pertunjukan
dilaksanakan hanya untuk lingkungan terbatas
dengan tingkat artistik sangat
tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewadewa
. Contoh : teater Wayang
c. Teater Urban atau
kota-kota. Teater ini Masih membawa
idiom bentuk rakyat dan keraton . teater jenis ini lahir dari
kebutuhan yang timbul dengan
tumbuhnya kelompok-kelompok
baru dalam masyarakat dan
sebagai produk dari kebutuhan baru ,
sebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia.
d. Teater kontemporer,yaitu teater yang menampilkan
peranan manusia bukan sebagai tipe melainkan
sebagai individu . dalam dirinya terkandung potensi yang
besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang tanpa batas.
Pendukung teater ini masih sedikit yaitu orang-orang
yang menggeluti teater secara serius
mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan
pencarian, eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan
teater Indonesia masa kini.
Sebagian besar daerah
di Indonesia mempunyai kegiatan berteater yang tumbuh dan
berkembang secara turun menurun. Kegiatan
ini masih bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat
hubungannya dengan budaya agraris (bertani) yang tidak lepas dari unsur-unsur
ritual kesuburan, siklus kehidupan maupun hiburan. Misalnya : untuk
memulai menanam padi harus diadakan upacara khusus untuk meminta
bantuan leluhur agar padi yang ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai
gangguan. Juga
ketika panen, sebagai ucapan terima kasih
maka dilaksanakan upacara panen. Juga peringatan
tingkat-tingkat hidup seseorang (kelahiran, khitanan, naik pangkat/
status dan kematian dll) selalu ditandai dengan
peristiwa-peristiwa teater dengan penampilan berupa
tarian,nyanyian maupun cerita, dengan acara, tata cara yang unik
dan menarik.
Teater
rakyat adalah teater yang hidup dan
berkembang dikalangan masyarat untuk memenuhi kebutuhan ritual dan
hiburan rakyat.
Sabtu, 21 Januari 2012
KESENIAN KUDA LUMPING
KUDA LUMPING
KESENIAN
TRADISIONAL INDONESIA BERNUANSA MISTIK
Awalnya,menurut sejarah, seni kuda lumping lahir sebagai
simbolisasi bahwa rakyat juga memiliki kemampuan (kedigdayaan) dalam menghadapi
musuh ataupun melawan kekuatan eliteb kerajaan yamg memiliki bala tentara. Di
samping, juda sebagai media menghadirkan hiburan yang murah-meriah namun
fenomenal kepada rakyat banyak.
Tarian tradisional yang dimainkan oleh kelompok ronggo
budoyo dari ambarawa semarang eemi mngais rezeki dari kampung kekampung selama
bertahun tahun dengan personil 8 orang tujuh laki laki dan satu perempuan yang
menurutnya masih dalam keluarga besar sehinga dalam memainkan maupun pembagian
penghasilanya selalu di bagi rata tidak memandang posisinya dalam melakukan
kegiatan itu.
Kini, kesenian kuda lumping masih menjadi sebuah
ertujunjukan yang cukup membuat hati
penontonnya terpikat. Walaupun peninggalan budaya ini keberadaannya
mulai bersaing ketat oleh masuknya budaya dan kesenian asing ketanah air ,
tarian tersebut masih memperlihatkan daya tarik yang tinggi. Hingga saat ini,kita tidak tau
siapa atau kelompk masyarakat mana yang mencetuskan (menciptakan) kuda lumping
pertama kali. Faktanya, kesenian kuda lumping di jumpai di banyak daerah dan
masing masing mengakui kesenian ini adalah sebagai salah satu budaya
tradisional mereka.Termasuk, disinyalir beberapa waktu lalu,di akui juga oleh pihak masyarakat
johor di malaisia sebagai miliknya di samping reog ponorogo. Fenomena
mewabahnya seni kuda lumping di bergagai tempat, dengan berbagai ragam dan
coraknya, dapat menjadi indikator bahwa seni budaya yang terkesan penuh magis
ini kembali “naik daun”sebagai seni budaya yang patut diperhatikan sebagai
kesenian asli indonesia.
Dipecut makan Beling
(pecahan kaca/cermin/gelas/piring dll)
semburan api
Entah ha apa yang membuat para pemainya ini seperti orang
kesurupan. Dilihat dari cara permainanya, para penari kuda lumping seperti
mempunyai kekuatan supranatural. Kesenian tari yang menggunakan kuda bohong
bohongan terbuat dari anyaman bambuserta diiringi oleh iringan musik gamelan seperti; gong
kenong, kendang dan slompret ini,ternyata mampu membuat para penonton terkesima oloeh setiap atraksi-atraksi penunggan(penari)
kuda lumping. Hebatnya, penari kuda lumping tradisional yang asli umumnya di
perankan oleh anak putri yang berpakaian lelaki bak prajurit kerajaan. Saat
ini, pemain kuda lumping banyak di mainkan oleh anak lelaki.
Bunyi sebuah pecutan
(cambuk) besar yang sengaja di kenakan para pemain kesenian ini, menjadi
awal permainan dan masuknya kekuatan mistis yang bisa menghilangkan kesadaran
si-pemain.Dengan men aiki kuda dari anyaman bambu tersebut, penunggan kuda yang
pergelangan kakinya di beri kerincingan ini pun mulai berjingkrak- jingkrak ,melompat
lompat hingga berguling guling di tanah. Selain melompat lompat, penari kuda
lumpingpun melakukan atraksi lainya, seperti memakan beling dan mengupas sabuit
kelapa dengan giginysa. Beling (kaca) yang dimakan adalah bohlam lampu yang
biasa sebagai penerang rumah kita. Lahapnya ia memakan belingseperti layaknya
orang kelaparan, tidak meringis kesakitan dan tidak ada darah pada saat ia
menyantap beling-beling tersebuat.
Jika dilihat dari keseluruhan pemain kuda lumping, bunyi
pecutan tiada henti mendominasi rangkaian atraksi yang ditamplkan. Agaknya,
setiap pecutan Yang silakukan oleh penunggang terhadap dirinya sendiri, yang
mengenai kaki atau bagian tubuhnya yang lain, akan memberikan efek magis.
Artinya, ketika lecutan anyaman rotan panjang diayaunkan dan mengenai kai dan
tubuhnya, si penari kuda lumping akan merasa semakin kuat, semakin perkasa,
semakin digdaya. Umumnya, dalam kondisi itu, ia kan semakin liar dan kuasa
melakukan hal-hal muskildan tidak masuk diakal sehat manusia normal.
Semarak dan kemeriahan pemain kuda lumping menjadi lebih
lengkap dengan di tampilkannya atraksi semburan api. Semburan api yang keluar
dari para mulut pemain lainya, di awali dengan menampung bensin di dalam mulut
mereka lalu di semburkan pada sebuah api yang menyala pada setangkai besi kecil
yang ujungnya dibuat sedemikian rupa agar api tidak mati sebelum dan sesudah
bensin itu di semburkan dari mulutnya. Pada permainan kuda lumping, makna lain
yang terkandung adalah warna. Adapun warna yang dominan pada pemain ini yaitu;
merah, putih dan hitam. Warna merah melambangkan sebuah keberanian serta
semangat.
Langganan:
Postingan (Atom)





